Menjemput Ilmu "Financial Technology yang Ramah Bagi Millenial"

Indonesia telah memasuki Revolusi Industri 4.0. Sebagai generasi milenial wajib bagi saya untuk melek digital. Kamis, 21 Maret 2019 saya berkesempatan untuk menghadiri kegiatan Pojok Literasi di Cafe Potret Medan. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dengan tema "Financial Technology yang Ramah Bagi Millenial" yang dihadiri oleh ratusan generasi millenial Medan.



Flyer Kegiatan
Kabar gembiranya Medan menjadi kota pertama diselenggarakannya kegiatan yang terbilang meriah ini, menyusul kota-kota lainnya di Indonesia. Acara dimulai pada pukul 14.00 WIB yang dipandu oleh kak Wardah Fajri dari Bloggercrony. Saya bersama teman-teman Blogger dan mahasiswa mahasiswi lainnya sudah tidak sabar ingin mendengarkan pemaparan dari para pemateri yang expert dibidangnya.

Materi pertama dibawakan oleh ibu Septriana Tangkary selaku Direktur IKPM Kemenkominfo, beliau menjelaskan tentang peran Government Public Relation yang bertugas menjembatani pemerintah dengan masyarakat dalam memberikan informasi di era digital. Saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet nomor empat terbesar di dunia. Pada tahun 2017, data agensi digital Amerika Serikat melaporkan bahwa penetrasi internet di Indonesia mencapai 51% atau sekitar 132,7 juta orang. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan penanaman serat optik Palapa Ring oleh Pemerintah di beberapa wilayah ujung Indonesia barat dan timur yang belum terjangkau internet. 



Sebanyak 132,7 juta orang pengguna internet di Indonesia, 106 juta orang diantaranya adalah pengguna aktif media sosial dan kebanyakan dari generasi millenial dengan rentang usia 20-34 tahun. Media sosial yang diakses adalah Youtube sebanyak 49%, Facebook 48%, Instagram 39% dan Twitter 38%.  Nah, pada tahun 2019 ini pemerintah Indonesia menjalankan program pojok literasi dengan harapan dapat menjadi wadah kolaborasi bersama antara Pemerintah dengan generasi millenial. Sehingga melalui program ini, akan muncul agen-agen literasi di seluruh Indonesia untuk menyuarakan literasi kepada masyarakat melalui media sosial. 

Saat ini generasi millenial menggunakan internet setiap hari. Beberapa diantaranya sadar bahwa dari internet bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga untuk mengisi tabungan. Berdasarkan laporan World Economic Forum (2015) memprediksikan bahwa Indonesia akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara tahun 2020. Pernyataan ini mempertegas bahwa ini menjadi peluang keuangan digital.


Pemateri kedua, ibu Rosarita Niken Widyastuti selaku Sekretaris Jendral Kementerian Komunikasi dan Informatika RI menyatakan bahwa KEMENKOMINFO berperan sebagai regulator dan juga fasilitator. Dengan tujuan mendorong ekonomi kreatif, seperti munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya belum ada. Kementerian ini juga bekerjasama dengan marketplace untuk mendorong petani, nelayan, UMKM agar bisa go online.




Hal ini terbukti dengan adanya program 1000 start up, salah satu diantaranya adalah finansialku. Pemerintah melalui KEMENKOMINFO menyediakan program beasiswa Digital Talent, yang mana kabar pendaftarannya untuk tahun ini akan dimulai bulan April. Ini merupakan kesempatan besar untuk generasi millenial. Bagi kamu yang ingin mendaftar program beasiswa ini capcus searching deh..


Pemateri ketiga, ibu Sondang Martha Samosir selaku Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK. Beliau menjelaskan tentang Financial Technology. Financial Technology adalah layanan keuangan berbasis teknologi informasi. 


Jasa keuangan: 

- Pembayaran (payment)
- Pendanaan (funding)
- Perbankan (digital banking)
- Pasar modal (capital market)
- Perasuransian (insurtech)
- Jasa pendukung lainnya (support fintech)

Kategori Fintech:


1. Payment : card payment, POS payment, E-money, transfer, remittances dan

    E-wallet.
2. Crowfunding : Loan-based crowd funding (Fintech P2P lending), Equity-based 
    crowd funding, Social based crowd funding.
3. Capital market : E-brokerage, E-mutual fund trading dan Dark pools trading.
4. Digital banking: Consumer and commercial banking, Banking infrastructure.
5. Insurtech : agent dan brokerage.
6. Supportin fintech : 
    - Basic Enabler : E-KYC, Digital signature, Security system, audit trail dan 
      recovery.
    - Advance Enabler : Credit information & scoring, Big data analysis, Robo 
      advisor, artificial intelligence (AI) dan Blockchain.


OJK menyusun pengaturan terkait usaha Fintech dan perlindungan konsumennya.

Peraturan OJK No.1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen sektor jasa keuangan. Wajib dilaksanakan oleh seluruh pelaku usaha jasa keuangan , termasuk pada layanan Fintech-nya.

Peraturan OJK No.77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (Peer-to-peer Lending). Wajib dilaksanakan oleh perusahaan yang terdaftar sebagai P2P lending.

Peraturan OJK No.37/POJK.04/2018 tentang layanan urun dana melalui penawaran saham berbasis teknologi informasi (Equity Crowdfunding). Wajib dilaksanakan oleh perusahaan yang terdaftar sebagai layanan urun dana (Equity Ceowfunding).

Tips Berinvestasi Dengan Fintech Lending

1. Pastikan perusahaan Fintech Lending termasuk dalam daftar lembaga yang 
    BERIZIN dan TERDAFTAR di OJK.

2. Lakukan riset, pelajari dan analisis data yang tersedia mengenai peminjam, 
    analisa kebutuhan peminjamannya, reputasi, tujuan pinjaman, kemampuan 
    ekonomi Borrower untuk mengembalikan pinjaman dan sebagainya.

3. Perhitungkan dengan seksama biaya-biaya yang timbul dari pinjaman (cost of
    borrowing), termasuk biaya yang timbul di muka (upfront fee), bunga, biaya 
    asuransi atau pertanggungan lain, provinsi, biaya keterlambatan, biaya
    pelunasan dipercepat dan biaya lainnya yang dikenakan kepada Lender.

4. Pelajari teknik diversifikasi pinjaman, baik dari aspek jumlah pinjaman, jenis 
    pinjaman, jangka waktu pinjaman , hingga grade dan credit scoring.

Kesimpulannya adalah dalam berinvestasi ada 2 hal yang perlu diingat yaitu LEGAL dan LOGIS.

Pemateri ke empat Melvin Mumpuni, perencana keuangan independen Finansialku. Finansialku.com adalah sebuah perusahaan perencana keuangan yang telah memiliki portal edukasi dan aplikasi perencanaan keuangan, merubah transaksi offline menjadi online.

Perencanaan Keuangan:
40% untuk biaya hidup
30% untuk biaya hutang
20% untuk tabungan
10% untuk biaya tak terduga

"Make a plan and get it"

Melvin juga menyebutkan bahwa dalam membangun bisnis start up digital butuh CEO. Nah ada 2 tipe CEO di dunia:
1. Dia percaya bisnisnya dan bisa jual produknya.
2. Dia tidak percaya bisnisnya bisa maju tapi jual perusahaannya (pendanaan, 
     naik gaji, pendanaan, naik gaji). 

So, cukup sekian tulisan saya tentang Fintech.

eitss... ingat...

Memviralkan sesuatu yang benar itu adalah ibadah dalam dunia literasi, apalagi literasi keuangan. Yuk jadi ALIKA "Agen Literasi Keuangan".


Semoga bermanfaat...

Jika konten ini bermanfaat buat kamu, jangan lupa di komen dan share ya ke teman-teman lainnya.












Romeltea Media
RACHMI - Blogger Medan Updated at:
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

Be the first to reply!

Post a Comment

 
back to top